Apa itu Mining Bitcoin? Alasan Mining Bitcoin Berpindah Tempat

Apa itu Mining Bitcoin? Alasan Mining Bitcoin Berpindah Tempat

Mining Bitcoin menjadi aktivitas yang lazim dilakukan oleh di berbagai tempat, mulai dari Mongolia Dalamsampai Texas. Anda bisa menjumpai beberapa tempat yang secara khusus memiliki popularitas tinggi di kalangan para penambang Bitcoin. 

Seiring meningkatnya popularitas Bitcoin, publik sering mendengar berita yang berkaitan dengan aktivitas mining dan tren pemindahan mining hub. Oleh karena itu, penting bagi Anda dalam mengetahui kenapa penambang memilih lokasi tertentu dan memilih untuk pindah ke tempat lain. 

Apa Itu Mining Bitcoin dan Kenapa Mining Perlu Dilakukan

Anda mungkin bertanya-tanya, kenapa Bitcoin memerlukan aktivitas mining dari para penambang di berbagai penjuru dunia. Alasan utamanya adalah karena Bitcoin menggunakan mekanisme konsensus proof of work. Mining adalah upaya untuk memanfaatkan proses komputasi yang terdistribusi untuk menjalankan mekanisme tersebut. 

Dalam ekosistem Bitcoin, mining adalah ajang lomba untuk menyelesaikan kode-kode matematika yang dipakai untuk melakukan konfirmasi transaksi. Dalam praktiknya, Anda juga akan mengenal istilah hashrate yang merupakan unit untuk mengukur kemampuan komputasi berkaitan dengan aktivitas mining

Pada awal kemunculan Bitcoin, aktivitas mining dapat dilakukan menggunakan komputer biasa. Namun, seiring meningkatnya popularitas Bitcoin, kode-kode matematika yang ada dalam jaringan blockchain semakin kompleks. Alhasil, proses mining memerlukan perangkat komputer yang lebih canggih. 

Para miner berlomba-lomba untuk melakukan penambangan. Cina menjadi negara favorit lokasi mining Bitcoin. Alasan utamanya adalah karena Cina menyediakan suplai energi listrik dengan harga yang murah. Selain itu, para penambang bisa memperoleh tempat yang luas dengan mudah di negara tersebut. 

Konsentrasi para penambang Bitcoin di Cina sangat tinggi. Bahkan, pada September 2019 sebanyak 76% komputer yang digunakan untuk keperluan mining aset kripto berada di Cina. Namun, fenomena tersebut kemudian terhenti setelah Pemerintah Cina melarang aktivitas mining kripto. 

Naik Turun Aktivitas Mining Bitcoin di Cina

Mongolia Dalam menjadi lokasi mining hub paling penting di dunia. Wilayah ini mempunyai kontribusi sebanyak 8% mining Bitcoin di seluruh dunia. Wilayah ini sangat luas, mulai dari Dataran Tinggi Tibet hingga menuju ke wilayah timur laut Cina yang setara dengan luas Afrika Selatan. 

Kawasan ini menjadi surga bagi para penambang Bitcoin. Apalagi, wilayah tersebut memiliki konsentrasi batu bara yang sangat tinggi. Hasilnya, para penambang bisa memperoleh keuntungan lewat penggunaan energi listrik dari PLTU setempat dengan harga murah, hanya 2,6 sen per kWh. Harga tersebut hanya 1/5 dari rata-rata biaya listrik rumahan di Amerika Serikat. 

Popularitas Mongolia Dalam sebagai surga penambang Bitcoin turun drastis pada Mei 2021. Partai Komunis di Cina melakukan pelarangan terhadap aktivitas mining dan trading Bitcoin. Alhasil, kebijakan partai penguasa di Cina tersebut memunculkan fenomena “the great mining migration”.

Kembalinya Desentralisasi Mining

Eksodus para penambang Bitcoin dari negara Cina membuat aktivitas mining kembali terdesentralisasi. Tidak ada lagi negara yang secara khusus mendominasi kegiatan mining. Kalaupun ada negara yang dominan, itu adalah Amerika Serikat yang mempunyai rata-rata hashrate bulanan sebesar 35,4% output global. 

Beberapa tempat yang menjadi lokasi favorit para miner di Amerika antara lain adalah New York, Georgia, dan Texas. Lalu, kenapa banyak memilih Amerika? Ada 3 faktor utama yang menjadi penyebabnya, yaitu regulasi yang mendukung, biaya energi listrik yang terjangkau, dan sustainabilitas. 

Selain Amerika, ada pula beberapa hub yang mempunyai popularitas cukup tinggi. Beberapa negara tersebut di antaranya adalah El Salvador, Kazakhstan, serta Johannesburg di Afrika Selatan. Ke depan, tidak menutup kemungkinan fenomena desentralisasi mining Bitcoin akan terus berlanjut. Apalagi, kecanggihan teknologi semakin memudahkan aktivitas penambangan. Ditambah lagi, founder sekaligus mantan CEO Twitter Jack Dorsey tengah membangun sistem mining Bitcoin yang andal, hemat energi, dan mempunyai kemampuan hashrate tinggi.

Did you find this useful?
0
0