Alasan Nilai Tukar Bitcoin Begitu Tinggi Hingga Saat Ini

Alasan Nilai Tukar Bitcoin Begitu Tinggi Hingga Saat Ini

Latar Belakang

Bitcoin (BTC) telah menjadi sebuah sensasi dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama dari sisi nilai tukar aset digilat ini. Digaungkan sebagai masa depan transaksi keuangan, BTC kini dipopulerkan oleh banyak orang yang melek teknologi keuangan modern. Sesekali di media sosial, kita akan menemukan orang-orang yang berusaha mempromosikan penggunaan BTC untuk melakukan kegiatan transaksi baik di dalam maupun luar negeri.

Sebelum kita lanjut, BTC sendiri adalah sebuah mata uang digital yang dapat digunakan sebagai aset digital yang bisa disimpan, ditransfer, dan diperjualbelikan lewat internet kapan saja. Karena BTC berbeda dari uang konvensional, BTC telah menjadi alat pembayaran yang populer untuk transaksi digital seperti untuk pembayaran produk di eBay dan Amazon.

Yang unik dari BTC adalah harganya yang tidak tetap dan bisa melonjak kapan saja. Ketika harganya bisa meningkat sebanyak lebih dari 100%, bisa dibayangkan bagaimana banyak orang  tergiur untuk menggunakan BTC untuk keperluan transaksi digital. Namun sebaliknya, bisa saja harga BTC merosot tajam yang membuat orang-orang bisa kehilangan banyak uang ketika harga BTC sedang menurun dengan drastis.

Faktor Penentu Nilai Tukar Bitcoin

Jika dipikir-pikir, kenapa harga BTC terlihat tidak stabil dan kenapa BTC tetaplah menjadi suatu aset digital yang berharga bagi banyak orang? Untuk tahu kenapa, mari kita simak pembahasan di bawah ini.

Faktor kelangkaan

Tidak seperti uang konvensional yang kita kenal, BTC tidak diproduksi dalam jumlah yang banyak. Sebagai akibatnya, seperti emas, BTC memiliki jumlah yang terbatas dan tidak bisa diproduksi begitu saja. Sekarang ini, terdapat sekitar 19 juta BTC yang tersedia di pasaran dengan kapasitas maksimal sebanyak 21 juta.

Dari sini, bisa terlihat bahwa jumlah BTC jauh lebih sedikit dari uang konvensional yang ada sekarang. Namun, tiap BTC memiliki nilai yang sama dengan satu sama lain (fungible) dan bisa dengan mudah diverifikasi lewat blockchain. Akibatnya, nilainya tidak bisa disamakan dengan nilai uang konvensional yang mudah mengalami inflasi atau penurunan nilai ketika jumlah pasokannya ada banyak.

Sebaliknya, BTC mengikuti prinsip deflasi, yaitu nilainya akan makin bertambah ketika jumlah barangnya makin sedikit, yang dibuktikan dengan makin sedikitnya jumlah BTC yang saat ini tersedia.

Faktor kegunaan

Tidak seperti transfer uang konvensional yang menggunakan bank sebagai jasa perantara (intermediary), BTC menggunakan sistem peer-to-peer (P2P) yang terjadi langsung dari pengirim ke penerima uang. Bagi banyak orang, tidak adanya atau sangat kecilnya biaya transfer uang membuat BTC menjadi alternatif bagi orang-orang yang tidak ingin terbebani oleh biaya transfer antar bank.

Selain itu, BTC juga bisa dipakai untuk transfer ke mana saja, yang membuat semua orang di seluruh dunia bisa mengirim uang tanpa perlu mempertimbangkan batas transaksi.

Faktor permintaan dan penawaran

Permintaan dan penawaran (supply and demand) Bitcoin juga menjadi penentu harga BTC yang tidak stabil di pasaran. Dengan adanya permintaan banyak terhadap BTC yang dibarengi dengan jumlah BTC yang terbatas, harga BTC pun menjadi semakin tinggi walau permintaannya juga tinggi.

Secara bersamaan, interaksi antara pembeli dan penjual BTC juga memastikan harga BTC tetap berada di tingkat sekarang ini di tengah keterbatasan BTC. Terlebih lagi, BTC juga memiliki nilai masa depan (future value) yang ditentukan oleh keyakinan pasar akan nilai suatu barang di masa depan.

Kesimpulan

Dengan memahami faktor-faktor di atas, sekarang kita paham kenapa meskipun terbatas jumlahnya, nilai bitcoin tetap menjadi perhatian banyak orang yang ingin menggunakannya.

Did you find this useful?
1
0