Awal yang alot bagi Bitcoin, di tengah buruknya pasar keuangan global

Bitcoin mengawali minggu ke dua tahun 2022 dengan pergerakan harga yang kurang baik. Harga Bitcoin jatuh dari kisaran US$47.000 (sekitar Rp670 juta) pada hari Senin, menuju ke bawah level US$40,000 (sekitar Rp595 juta) di hari Jumat (7/1) untuk pertama kalinya sejak September tahun lalu. 

Untungnya, harga Bitcoin berhasil segera pulih, dan kini (13/1) dipertukarkan di kisaran US$43,000 lebih (sekitar Rp627 juta). Walau begitu, pergerakan harga Bitcoin saat ini tampaknya belum cukup untuk mengubah momentum tren pasar ini.

Pergerakan harga Bitcoin diprediksi sentuh Rp1 miliar?

Presiden El Salvador, Nayib Bukele, membagikan prediksi yang cukup berani bahwa Bitcoin akan menyentuh ATH US$100.000 (sekitar Rp1.5 miliar) di tahun ini. Namun berdasarkan bukti-bukti yang ada saat ini, tampaknya hal tersebut masih memerlukan analisis pergerakan harga Bitcoin lebih lanjut.

Pertemuan The Fed (Federal Reserve System) AS penyebab BTC turun?

Selain pasar dan pergerakan harga Bitcoin, pasar saham juga ikut anjlok, yang nampaknya masih dibayangi ketakutan akan kemungkinan besar naiknya suku bunga di Amerika Serikat. Notulen dari rapat Federal Reserve—Bank Sentral Amerika Serikat—di bulan Desember, menunjukkan bahwa tingkat suku bunga kemungkinan besar akan naik lebih cepat dari pada perkiraan. 

Hal ini dilakukan untuk menekan inflasi di Amerika Serikat yang telah menyentuh 6,8% di bulan Desember. Prosentase tersebut adalah level tertinggi sejak 1982. Secara historis, tingkat suku bunga yang tinggi berdampak buruk bagi kelompok aset yang berisiko lebih tinggi.

Wakil Meneteri Perdagangan beberkan pentingnya bursa berjangka kripto

Dilansir dari Kontan (10/1) – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menjelaskan dan menegaskan pentingnya memberikan kepastian usaha dan kepastian hukum bagi perlindungan investor dan konsumen aset kripto di Indonesia. Hal tersebut dapat terealisasi dengan hadirnya bursa berjangka aste kripto yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal 1 2022.

“Kata kuncinya adalah kepastian dan keamanan. Itu semua tugas pemerintah. Artinya sektor usaha apapun harus difasilitasi oleh pemerintah agar setiap pelakunya mendapatkan keadilan dan perlindungan dalam bertransaksi,” ujar Jerry dalam keterangannya, Minggu (9/1).

Analisis harga Bitcoin

Setelah keluar dari rentang konsolidasi harga dalam satu bulan, Bitcoin terpantau menguji level support di level US$40.000.

Minggu lalu, pergerakan harga Bitcoin terjun melampaui rentang konsolidasi bawah, dan kini level support berada di kisaran US$40.000 (sekitar Rp570 juta). Level ini masih menjadi level support yang penting meskipun harga sempat turun ke bawah US$40.000 sebelum kembali pulih.

Usai aksi jual pekan lalu mengakibatkan level US$45.000 (sekitar Rp640 juta) telah berbalik dari support menjadi angka resistance. Jika rentang konsolidasi berhasil pulih, maka hal tersebut akan menjadi sinyal yang menjanjikan untuk perubahan tren pasar menjadi bullish, dengan level US$52.000 (sekitar Rp740 juta) yang akan menjadi level resistance yang perlu dipertahankan selanjutnya.


Namun, jika harga bergerak turun, maka level US$37.000 (sekitar Rp536 juta) akan menjadi level support yang penting. Angka ini sempat menjadi support saat aksi jual singkat di bulan Agustus lalu. Jika terus bergerak turun, maka level support selanjutnya ada di kisaran US$30.000 (sekitar Rp430 juta).

Isi artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan bukan saran atau rekomendasi ataupun ajakan investasi. Luno selalu menyarankan Anda untuk mendapatkan nasihat keuangan oleh Anda dan untuk Anda sendiri sebelum berinvestasi atau trading cryptocurrency.

Did you find this useful?
6
0