Bitcoin Masih Koreksi, 25% Warga AS Kantongi Si Raja Kripto

Bitcoin bergerak cukup lambat di minggu ini, setelah sempat terjun ke US$45.000 (sekitar Rp665 juta) pada hari Senin. Sebelumnya, Bitcoin berada di kisaran US$50.000 (sekitar Rp720 juta) akhir pekan lalu.

Upaya Bitcoin untuk lepas dari koreksi

Harga Bitcoin berangsur memulih ke kisaran US$47.000 (sekitar Rp670 juta). Namun, angka ini masih 32% di bawah ATH US$69.000 (sekitar Rp963 juta) pada bulan November. Mari kita tunggu, apakah Bitcoin akan bertahan pada posisi ini, atau akan mengalami pergerakan harga yang cukup tajam.

Kondisi ini sangat sangat berbeda dengan bulan Desember tahun lalu. Harga Bitcoin meningkat sebesar 30% dalam sebulan, dari US$19.000 (sekitar Rp270 juta), menuju hampir US$30.000 (sekitar Rp370 juta). Indeks Fear and Greed yang mengukur sentimen pasar, bertahan di Extreme Greed sepanjang bulan tersebut. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin dinilai terlalu tinggi, dan mungkin bisa menjadi tanda bahwa periode pasar yang bullish akan segera berakhir. Sementara hari ini, meskipun harga Bitcoin naik dua kali lipat dibanding Desember tahun lalu, sentimen pasar masih diselimuti ketidakpastian.

Aksi jual pun nampak ramai. Para analis berspekulasi bahwa ini disebabkan oleh keputusan The Fed atau bank sentral Amerika terhadap suku bunga. Mereka memutuskan untuk mengurangi pembelian obligasi dan mulai menaikkan suku bunga tahun depan. Pasar saham pun anjlok usai kabar tersebut, dengan kenaikan tarif yang membuat para investor mulai mencari tempat lain untuk menyimpan aset mereka selain di pasar saham dan kripto.

Kripto masuk jajaran hasil pencarian populer menurut Year in Search 2021 Google

Kripto kembali masuk ke perbincangan sekuler, dengan pencarian “how to buy bitcoin” (bagaimana cara beli bitcoin) yang bahkan mengalahkan “how to buy stocks” (bagaimana cara beli saham) yang menjadi pencarian populer di awal tahun ini.

Lebih dari 25% penduduk AS memiliki Bitcoin

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Grayscale Investment, perusahaan investasi mata uang digital dan pengelolaan aset kripto, lebih dari seperempat (26%) penduduk AS kini memiliki bitcoin.

Fidelity Investments siap luncurkan ETF BTC

Fidelity Advantage Bitcoin ETF (FBTC) akan berinvestasi dalam bitcoin “fisik”, berbeda dengan ETF BTC lain yang sepenuhnya berbasis futures (aset berjangka). Dengan demikian, Fidelity adalah pengelola aset terbesar yang masuk ke ruang ETF kripto.

Amerika Serikat akan jadikan Bitcoin mata uang sah di 2022?

Dengan segala berita naik-turunnya Bitcoin, ada kabar baik dari Amerika Serikat. Ahli strategi komoditas senior intelijen Bloomberg, Mike McGlone, percaya bahwa pemerintah Amerika Serikat akan menerima Bitcoin secara sah sebagai alat tukar pada tahun 2022. Dia memprediksi bahwa harga Bitcoin akan tampak berada pada lintasan naik sebesar US$100.000 (sekitar Rp140 juta).

Analisis harga

Bitcoin berada dalam rentang US$46.000-US$50.000 (sekitar Rp670 juta-Rp720 juta) selama 10 hari terakhir. Dengan demikian, menguji rata-rata pergerakan harga 200 hariannya di kisaran US$46.800 (sekitar Rp670 juta) sepanjang pekan lalu.

Jika bitcoin gagal menembus harga rata-rata ini, bitcoin mungkin akan berada di kisaran US$42.000 (sekitar Rp601 juta) seperti pada 4 Desember.

Bitcoin memiliki support kuat di area US$40.000 (sekitar Rp573 juta), yang merupakan harga terendah pada aksi jual di akhir September. Jika harga bergerak naik, maka area US$50.000-US$53.000 (sekitar Rp720juta – Rp759 juta) berpotensi menjadi level resistance kuartal selanjutnya.

Isi artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan bukan saran investasi atau bentuk rekomendasi ataupun ajakan. Luno selalu menyarankan Anda untuk mendapatkan nasihat keuangan oleh Anda dan untuk Anda sendiri sebelum berinvestasi atau trading cryptocurrency.

Did you find this useful?
7
0