Bitcoin turun ke US$19.500, Telegram berencana rilis marketplace NFT

Bitcoin turun ke US$19.500, Telegram rilis marketplace NFT

Kabar terbaru soal NFT datang dari Telegram yang berencana membuat platform NFT. Australia siapkan rencana aturan kripto baru. Dampak inflasi masih berpengaruh pada ekonomi di seluruh dunia. Bitcoin turun lagi, lalu apa yang akan terjadi?

Ikuti kabar dan peristiwa penting lainnya dari dunia kripto sepekan terakhir di sini!

Rencana Telegram rilis marketplace untuk NFT

Menurut Founder Telegram, Pavel Durov, blockchain TON yang rancangannya dapat menangani decentralised sales atau penjualan tidak terpusat dalam jumlah besar. Menurut Durov, Telegram juga dapat “membuat smart contract yang sangat aman untuk TON.” 

Nilai TON naik 10 persen pasca pengumuman itu. Namun, belum ada kabar lebih lanjut baik dari pihak Telegram maupun Durov. 

Australia umumkan rencana regulasi kripto yang ‘belum pernah ada di dunia’

Menurut Australian Treasury atau Kementerian Keuangan Australia, pendekatan riset pasar yang disebut token mapping berperan penting di sini. Token mapping dapat mengevaluasi tren di pasar kripto Australia. Informasi itu berguna untuk “mengidentifikasi cara menentukan aturan yang tepat untuk aset kripto dan layanan terkait lainnya.”

Kartu prabayar yang beri 5% cashback Bitcoin baru saja dirilis di Brazil

Ripio, perusahaan penyedia layanan kripto, bekerja sama dengan Visa luncurkan kartu prabayar Ripio Card di Brazil. Pengguna Ripio Card akan mendapatkan cashback sebesar 5% dalam bentuk Bitcoin untuk pembelanjaan di seluruh dunia. 

Dampak aturan inflasi akan segera dirasakan di seluruh dunia

Para pemimpin lembaga keuangan di dunia telah memperingatkan bahwa inflasi kali ini akan terjadi dalam jangka panjang. Kebijakan yang perlu diambil untuk mengatasi inflasi tersebut, tampaknya juga akan berdampak pada resesi. Ekonomi akan menurun, dan bisa banyak orang yang kehilangan pekerjaan terutama di negara berkembang.

Analisis harga

Bitcoin gagal mempertahankan support di angka US$20.700 (sekitar Rp307 juta) dan turun ke kisaran US$19.500 (sekitar Rp289 juta). BTC kini dipertukarkan di bawah pergerakan harga 200-mingguannya (200WMA / weekly moving average). Peristiwa ini terbilang jarang terjadi, dan aksi beli pada harga di bawah indikator teknis biasanya bisa jadi strategi yang menguntungkan. 

Namun, perlu diperhatikan bahwa Bitcoin telah dipertukarkan di bawah 200 WMA ini selama dua bulan. Kondisi tersebut belum pernah terjadi, dan tampaknya indikator yang penting ini telah berbalik menjadi level resistance. Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sinyal bearish teknikal.

Level support penting mingguan berikutnya ada di kisaran US$16.000 (sekitar Rp237 juta) atau bahkan pada kisaran US$11.000 – US$12.000 (sekitar Rp163 juta – Rp181 juta). Jika Bitcoin berhasil bergerak naik, maka Bitcoin akan dipertukarkan di atas harga puncak tahun 2017, dan level ini berpotensi menjadi level support yang cukup kuat. 

Di manakah level support berikutnya? Dengan pergerakan Bitcoin dan aset kripto lain yang mengikuti pasar saham sepanjang tahun ini, tampaknya cukup berisiko untuk mengevaluasi harga Bitcoin hanya berdasarkan level teknikalnya saja.

Artikel ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi, bukan rekomendasi ataupun ajakan investasi. Luno selalu menyarankan Anda untuk melakukan riset sesuai dengan kebutuhan Anda sebelum berinvestasi atau trading cryptocurrency.

Did you find this useful?
1
1