Suku Bunga Naik, Volatilitas Naik, Bitcoin Mulai Pulih

Suku Bunga Naik, Volatilitas Naik, Bitcoin Mulai Pulih

Untuk pertama kalinya sejak 2020, pasar kripto pekan ini kembali merosot tajam. Akhir pekan lalu, harga Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$18.000 (sekitar Rp267 juta) sebelum akhirnya pulih kembali. Pada hari Rabu (15/6), Bitcoin sempat mencapai angka US$22.000 (sekitar Rp330 juta). Saat ini, Bitcoin kembali dipertukarkan di kisaran US$20.000 sejak Senin (20/6).

Setelah pengumuman naiknya suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat pada Rabu pagi, volatilitas Bitcoin naik lagi. Sesuai prediksi, suku bunga bank sentral AS naik 0,75%, yang merupakan kenaikan terbesar sejak 1995. 

Tak hanya Bitcoin, aset kripto besar lainnya juga mengalami pergerakan serupa. Di antaranya Ethereum, yang sempat turun ke bawah US$1.000 (sekitar Rp14,8 juta) sebelum kembali pulih. Pasar saham pun mengalami minggu yang buruk. Bahkan, sempat mengalami persentase penurunan mingguan terbesar dalam dua tahun terakhir. Namun awal minggu ini, keadaan pasar tampak mulai membaik lagi.

Kami telah mengumpulkan beberapa berita menarik pekan ini seputar kripto. Apakah kabar seru ini bisa ikut menggoyang harga BTC?

Kripto lebih ideal untuk sistem keuangan di masa depan, berdasarkan visi BIS

BIS atau Bank of International Settlement adalah organisasi internasional, yang berperan sebagai forum kerjasama antar bank sentral, untuk menyokong stabilitas moneter dan keuangan global. BIS telah melakukan riset untuk menemukan sistem moneter yang ideal di masa depan. Dalam studinya, BIS menyebutkan bahwa ekosistem kripto lebih memenuhi syarat, dibandingkan sistem keuangan fiat yang kita miliki sekarang.

Ada 8 butir tujuan utama yang ingin dicapai oleh BIS terkait sistem keuangan di masa depan. Yaitu keamanan dan stabilitas, akuntabilitas, efisiensi, inklusi, kontrol pengguna terhadap data, integritas, kemampuan beradaptasi, dan keterbukaan. Riset BIS tersebut menujukkan bahwa ekosistem kripto memenuhi dua dari 8 tujuan utama tadi, yaitu kemampuan adaptasi dan keterbukaan. Sedangkan, mata uang fiat hanya memenuhi poin keamanan dan stabilitas.

Metaverse berpotensi raup US$5 triliun di tahun 2030, menurut laporan McKinsey

Dalam laporan terbarunya yang berjudul “Value creation in the metaverse”, Mckinsey menyebutkan bahwa metaverse akan menghasilkan lebih dari US$5 triliun (sekitar Rp74.000 triliun) pada 2030. Sepanjang 2022, transaksi yang berlangsung di metaverse telah mencapai US$120 miliar (sekitar Rp1.777 triliun), atau naik dua kali lipat dari 2021. 

Laporan tersebut juga menyimpulkan kalau metaverse akan berpengaruh besar terhadap aktivitas jual-beli maupun kehidupan pribadi banyak orang, dan akan jadi “terlalu besar untuk diabaikan”.

Deloitte dan NYDIG bekerja sama untuk bantu bisnis adopsi Bitcoin

Jaringan penyedia jasa profesional multinasional Deloitte, nampaknya makin serius menjajaki masa depan Bitcoin. Sejumlah langkah besar diambil untuk mendukung adopsi BTC. Yang terbaru, Deloitte bekerjasama dengan perusahaan keuangan yang fokus di Bitcoin, yaitu New York Digital Investment Group (NYDIG). Kerjasamanya ini dilakukan untuk membantu bisnis dalam implementasi aset digital.

Deloitte dan NYDIG akan bekerjasama dalam konsultasi terkait adopsi produk ataupun layanan Bitcoin, serta memberikan layanan berbasis blockchain dan aset digital, pada sejumlah area yang melibatkan Bitcoin maupun layanan terkait Bitcoin. Seperti perbankan, program loyalitas pelanggan, tunjangan karyawan, dan sebagainya.

Tether akan luncurkan stablecoin GBPT yang berbasis pada Poundsterling Inggris

Perusahaan stablecoin besar, Tether, baru saja mengumumkan kalau stablecoin GBPT yang berbasis pada harga poundsterling Inggris, akan diluncurkan pada awal Juli dan dalam tahap pertama ini akan mendukung blockchain Ethereum.

GBPT akan menjadi mata uang digital yang mengikuti nilai poundsterling Inggris dalam rasio 1:1, dengan harapan untuk memberikan pilihan transfer aset yang lebih cepat dan murah.

Selain GBPT, sebelumnya Tether sudah merilis empat stablecoin lainnya. Yaitu USDT yang berbasis pada dolar Amerika, EURT yang berdasar pada mata uang Euro, CNHT yang mengikuti nilai mata uang yuan Tiongkok, dan MXNT yang baru saja diluncurkan, berbasis pada peso Mexico.

Analisis harga

Harga Bitcoin sempat turun ke bawah US$20.000 (sekitar Rp296 juta) di tengah aksi jual paksa minggu lalu. Tapi, kini telah pulih ke level harga puncak di tahun 2017, dan menutup pekan lalu dengan cukup baik di angka US$20.500 (sekitar Rp304 juta). Untuk sementara, support BTC ada di kisaran US$20.000. 

Harga Bitcoin sempat turun ke bawah level ini di pekan lalu akibat aksi jual besar-besaran yang disebabkan oleh kebangkrutan hedge fund kripto Three Arrows Capital (3AC). Sejauh ini, level support penting yang perlu diperhatikan masih ada di angka US$20.000.

BTC juga kini dipertukarkan di bawah rata-rata pergerakan harga 200 mingguan, untuk kedua kalinya sepanjang sejarah Bitcoin. Peristiwa ini terakhir kali terjadi pada 12 Maret 2020. BTC kini berada di posisi menarik di bawah rata-rata 200 mingguannya, yaitu US$22,427 (sekitar Rp332 juta) dengan support di angka US$20,000 (sekitar Rp296 juta). Jika harga berhasil naik ke atas rata-rata 200 mingguan ini, maka ini akan memberi sinyal positif dan bisa mengindikasikan bahwa pasar telah mencapai bottom.

Artikel ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi, bukan rekomendasi ataupun ajakan investasi. Luno selalu menyarankan Anda untuk melakukan riset sesuai dengan kebutuhan Anda sebelum berinvestasi atau trading cryptocurrency.

Did you find this useful?
6
0